saya tidak pintar dan mahir dalam menulis, tetapi terkadang saya ingin menulis sesuatu. dalam tulisan ini hanyalah sekedar tulisan jika dalam tulisannya ini kurang baik, banyak kata yang salah dan kesalahan lainnya saya minta maaf sedalam-dalamnya karena ini hanya sekedar tulisan biasa dari orang biasa. selamat membaca
Hari ini begitu cerah bagaikan hatinya yang selalu seindah
pagi dan secerah matahari, dia adalah seorang istri dari pengusaha kaya yang
kuat imannya serta sangat mencintai
istrinya. Pernikahan terjadi didasarkan atas nama Allah, di awal pernikahannya
selalu diselimuti dengan rasa kehangatan, bau keharmonisan, dan wangi
kelembutan. Suami yang ia nikahi 4 tahun lalu selalu memberikan ia kehangatan
yang tidak mungkin orang lain dapat merasakannya. Seorang suami yang sangat ia
cintai karena perbuatannya kepada Allah dan karena kecintaannya dengan Allah
membuatnya semakin mencintai suaminya. Tidak pernah sedikitpun keluar kata-kata
kasar dari mulut suaminya jika ia melakukan hal yang salah, tapi sayangnya
selama 4 tahun pernikahannya, ia belum juga dikarunianya seorang anak, tetapi
suaminya tidak pernah mempermasalahkannya...
Disuatu pagi yanng dingin ketika ekonomi mereka masih rendah
sang istri selalu meneminya dan menguatkannya untuk tidak pernah putus asa.
“mengapa kamu melamun dipagi hari seperti ini?” tanya
istrinya
“aku hanya memikirkan bagaimana agar dapat membahagiakanmu kelak” ujar suaminya
“aku hanya memikirkan bagaimana agar dapat membahagiakanmu kelak” ujar suaminya
Sang istri hanya diam sejenak, lalu berkata
“saat ini adalah hal yang selalu membuatku bahagia dengan
memberikan mu segelas kopi dipagi hari dan membuatkan makanan untukmu,
kebahagiaanku adalah mendapatkan kehangatamu, kelembutanmu, dan kasih sayangmu
yang selalu engkau dasari atas nama Allah”
Suaminya pun menggenggam tangan istrinya serasa berkata
“apakah kau menyesal menikah denganku, apakah kau selalu
bahagia seperti ini denganku walaupun aku tak memiliki apa-apa yang dapat aku
berikan padamu”
“dengarlah suamiku dalam benakku tak pernah terlintas
sedikitpun penyesalan menikah denganmu, aku selalu bahagia dekat denganmu
apakah kau pernah melihatku bersedih?, aku tak memerlukan apapun darimu untuk
membahagiakan lebih dari ini, bagiku saat ini aku sudah sungguh sangat bahagia,
suamiku” ujar istrinya.
Setiap hari sang suami hanyalah bekerja menjadi karyawan
perusahan yang gajinya pas-pasan untuk hidup sehari-hari, tapi tidak sedikitpun
keluar kata-kata keluhan dari sang suami...
Istri yang ia miliki saat ini bagaikan seorang malaikat yang
selalu menemani pahit dan manisnya kehidupan yang tengah ia perjuangkan..
***
Kecintaannya kepada sang Maha Kuasa selalu membuatnya
mendekatkan diri, mengadu setiap maslah yang dihadapi, bertanya apa yang harus
dilakukan dan selalu berusaha untuk memperbaiki ekonomi keluarga kecilnya...
Tak perlu waktu lama setelah ia menikah, suaminya diangkat menjadi
manager, lalu menjadi pimpinan cabang.
Karena jabatan yang ia terima saat ini membuat keluarga
kecilnya harus pindah rumah untuk memperpendek jarak rumah dengan kantornya. Sang
suami membeli rumah yang cukup besar untuk ditinggali dan ia juga membawa
pembantu yang telah lama bekerja kepada keluarga istrinya.
Kesibukan membuat suaminya terkadang tidak ada waktu untuk
makan dirumah, dan selalu pulang malam hari.
Perubahan kehangatan dan kelembuatan dari suaminya tidak
membuatnya merasa harus mengeluh, akan tetapi disetiap doanya ia hanya berdoa
untuk keselamatan, kesehatan, dan kebahagian suaminya.
Jabatan yang dipegang sang suami membuatnya lupa akan
kewajibannya dengan sang Maha Kuasa, sholat 5 waktu yang dulu ia pertahankan
tepat waktu dalam keadaan apapun kini mulai melewatkan beberapa sholat, bahkan
tahajud dan dhuha yang selalu ia kerjakan kini hilang begitu saja dengan
rutinitasnya sehari-hari. Tapi sang istri selalu mengingatnya kepada sang
pencipta...
Hari ini ia telah membuatkan masakan yang disukai suaminya,
ia menunggu suaminya dimeja makan untuk makan malam, jam terus berdetak seakan
tidak ingin berhenti memberitahukan keadaan waktu saat ini.
“bu, apakah ibu tidak masuk saja kedalam kamar biarkan saya
yang menunggu bapak pulang, ini sudah larut malam” ujar pembantunya
Tapi ia bersih keras untuk menunggu sang suami pulang
Saat suaminya pulang dalam keadaan setengah sadar (mabuk),
sang istri tidak mengerti apa yang terjadi dan hanya berkata “mengapa kamu
demikian mas? Apa yang telah terjadi sebenarnya”
Suami yang tidak pernah membentaknya kini mulai
memperlakukannya dengan kasar “ aku lelah denganmu, aku selalu menginginkan
anak darimu, tapi mengapa kau tak pernah hamil? Aku selalu tidak
mempermasalahkan akan kehamilanmu tapi sebenarnya aku menginginkannya”
Sang istri menetesakan air mata yang dahulu hanya keluar
ketika ia mengadu dan bertemu dengan Allah, dan kini suami yang ia cintai
mengatakan hal yang melukai perasaannya “mengapa engkau berkata demikian mas?”
“teman-teman dikantorku selalu membicarakanku dan
mencibirku, sudah menikah lama tapi tidak punya anak” ujar suaminya.
Mendengar kata-kata suaminya ia hanya berdiam diri dan
membatu suaminya untuk masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Saat dikantor yang tengah makan siang seorang karyawan yang
dekat dengannya berkata “megapa kau tidak punya anak?”
Dia hanya menjawab “itu karena istriku sulit untuk
mendapatkannya?”
“apakah kau tidak ingin punya anak?” ujar temannya
“ aku sangat ingin memilikinya, tapi bagaimana istriku belum
dapat hamil?” katanya
“maukah kau mendapatkan anak? Jika kau mau kau bisa
mendapatkannya dari perempuan lain, jika kau mau nanti malam kita akan ku ajak
kau menemui temanku” ujar temannya
Dalam benaknya tidak pernah sedikitpu untuk menemui
perempuan lain, tapi akibat paksaan dari temannya dan hasutan syeitan ia pun
tergoda untuk menemui perempuan itu dan dipaksa untuk minum alkohol.
Hari ini seperti biasa sang istri selalu membawakannya
makanan untuk dimakan saat makan siang, tapi setelah ia keluar dari rumah bekal
itu langsung ditaruh ditenpat sampah. Kehamilan yang tidak dapat dimiliki oleh
sang istri membuatnya marah dan berfikir untuk mendapatkannya dari perempuan
lain.
Setiap malam sang istri menunggunya dimeja makan hingga
malam untuk makan malam akna tetapi ketika suaminya pulang selalu dalam keadaan
mabuk. Dengan hati yang ringan ia tidak pernah menyalahkan suaminya atas
tindakan kasar yang ia terima, bahkan ia sellau menginngatkan sang suami akan
akhirat tapi selalu saja di biarkan seperti angin yang berhempus lewat begitu
saja. Saat suaminya pulang dalam keadaan mabuk ia selalu menggendongnya masuk
kedalam kamar hingga menggantikan pakaian, dan selalu membasuh muka suaminya
dan membiarkan nya tidur dengan nyenyak. Setelah selesai ia kembali kedapur dan
memanggil pembantunya .
“bi, bibisudah makan?” ujarnya
“sudah bu, mengapa?” ujar sang bibi
“duduklah disini bi, makanlah makanan ini sedikit saja
temani saya makan disini” ujarnya
Seraya ia memasukkan makanan kedalam mulutnya disaat itu
pula air matanya jatuh membasahi pipinya.
“bi, masukkanlah semua makanan ini kedalam kulkas dan
hangatkan lah keesokkan harinya, lalu berikan makanan ini untuk anak-anak
jalanan yang ada diluar sana “ ujarnya
Sang bibi pun hanya mengangguk menandakan iya mematuhi apa
yang diperintahkan.
Setiap hari sehabis pulang dari kantornya sang suami selalu
pergi dengan perempuan lain untuk berbelanja dan sebaginya.
Seperti malam-malam biasanya suaminya selalu pulang larut
malam dalam keadaan mabuk, kali ini sang suami demam tinggi. Ia hanya berkata
kepada pembantunya “bi, ambilkan saya air hangat, dan makanlah makanan yang ada
diatas meja”
Lalu ia membawa suaminya masuk kedalam kamar, mengganti
pakainanya, memijat suaminya, dan menurunkan demam suaminya hingga ia tertidur
dipinggi ranjang. Ia bangun dini hari untuk menunaikan sholat tahajudnya dan
mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Keesokkan harinya bekal yang diberikan selalu saja mendarat
kedalam tong sampah, sejak awal sang istri mengerti dan mengetahui bahwa bekal
yang ia siapkan selalu dibuang kedalam tong sampah, tapi tidak sedikitpun dalam
hatinya ia sakit hati. Karena selalu dibuang kedalam tong samapah sehingga ia
menyiapkan kotak makan didalam lemarinya hingga tidak tau berapa jumlahnya..
Bersambung.............
